Tuesday, May 20, 2014

Jim Caviezel, Aktor pemeran Yesus dalam The Passion of the Christ.

Jim Caviezel adalah aktor Hollywood yang memerankan Tuhan Yesus dalam Film “The Passion Of the Christ”. Berikut refleksi atas perannya di film itu.
JIM CAVIEZEL ADALAH SEORANG AKTOR BIASA DENGAN PERAN2 KECIL DALAM FILM2 YANG JUGA TIDAK BESAR. PERAN TERBAIK YANG PERNAH DIMILIKINYA (SEBELUM THE PASSION) ADALAH SEBUAH FILM PERANG YANG BERJUDUL “ THE THIN RED LINE”. ITUPUN HANYA SALAH SATU PERAN DARI BEGITU BANYAK AKTOR BESAR YANG BERPERAN DALAM FILM KOLOSAL ITU. Dalam Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari memancing musuh kearah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya. Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.

“Saya terkejut suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah…, Dia ini Tuhan, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan memerankannya? Mereka pasti bercanda. Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, “Hallo ini, Mel”. Kata suara dari telpon tersebut. “Mel siapa?”, Tanya saya bingung. Saya tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu actor dan sutradara Hollywood yang terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya menyanggupinya. Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film2 lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus belajar bahasa dan dialek alamik, bahasa yang digunakan pada masa itu. Dan Mel kemudian menatap tajam saya, dan mengatakan sebuah resiko terbesar yang mungkin akan saya hadapi. Katanya bila saya memerankan film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karir saya sebagai actor di Hollywood.

Sebagai manusia biasa saya menjadi gentar dengan resiko tersebut. Memang biasanya aktor pemeran Yesus di Hollywood, tidak akan dipakai lagi dalam film-film lain. Ditambah kemungkinan film ini akan dibenci oleh sekelompok orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bisnis pertunjukan di Hollywood . Sehingga habislah seluruh karir saya dalam dunia perfilman. Dalam kesenyapan menanti keputusan saya apakah jadi bermain dalam film itu, saya katakan padanya. “Mel apakah engkau memilihku karena inisial namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?” Mel menggeleng setengah terperengah, terkejut, menurutnya ini menjadi agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari perhatiannya. Dia memilih saya murni karena peran saya di “Thin Red Line”. Baiklah Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda panggilanku, semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau memikulnya maka ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung resikonya, mari kita buat film ini! Maka saya pun ikut terjun dalam proyek film tersebut. Dalam persiapan karakter selama berbulan-bulan saya terus bertanya-tanya, dapatkah saya melakukannya? Keraguan meliputi saya sepanjang waktu. Apa yang seorang Anak Tuhan pikirkan, rasakan, dan lakukan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membingungkan saya, karena begitu banya referensi mengenai Dia dari sudut pandang berbeda-beda.

Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak lakukan yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunanNya melakukan semua ini. Karena siapalah saya ini memerankan Dia yang begitu besar. Masa lalu saya bukan seorang yang dalam hubungan denganNya. Saya memang lahir dari keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri saya. Saya hanyalah seorang pemuda yang bermain bola basket dalam liga SMA dan kampus, yang bermimpi menjadi seorang pemain NBA yang besar. Namun cedera engkel menghentikan karir saya sebagai atlit bola basket. Saya sempat kecewa pada Tuhan, karena cedera itu, seperti hancur seluruh hidup saya. Saya kemudian mencoba peruntungan dalam casting-casting, sebuah peran sangat kecil membawa saya pada sebuah harapan bahwa seni peran munkin menjadi jalan hidup saya. Kemudian saya mendalami seni peran dengan masuk dalam akademi seni peran, sambil sehari-hari saya terus mengejar casting.

Dan kini saya telah berada dipuncak peran saya. Benar Tuhan, Engkau yang telah merencanakan semuanya, dan membawaku sampai disini. Engkau yang mengalihkanku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah memilihku, maka apapun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendakMu.

Saya tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari pada bayangan saya.

Di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi syuting yang hampir tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang sangat tidak nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari syuting membuat saya sangat tertekan. Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu dipundak saya, saya kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira itu akting yang sangat baik, padahal saya sungguh-sungguh terkejut. Salib itu terlalu berat, tidak mungkin orang biasa memikulnya, namun saya mencobanya dengan sekuat tenaga. Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot, dan tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan sayapun melolong kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar biasa, mereka tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya. Saat saya memulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan dengan sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya terjadi dan segera memberikan saya perawatan medis.

Sungguh saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti itu, namun saya hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel datang pada saya. Ia bertanya apakah saya ingin melanjutkan film ini, ia berkata ia sangat mengerti kalau saya menolak untuk melanjutkan film itu. Saya bekata pada Mel, saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan Yesus seberat dan semenyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus mau memikul salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini. Maka mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi, dan mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton lihat didalam film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya.

Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting penyambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu, Karena cambuk yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm. Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan ditanah sambil memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan. Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju, para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung diatas kayu salib, diatas bukit yang tertinggi disitu. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya. Saya terkena hypothermia (penyakit kedinginan yang biasa mematikan), seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak, mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya.

Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas kemanusiaan saya. Dari adegan-keadegan lain semua kru hanya menonton dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga seringkali saya harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa. Hanya untuk berdoa, berseru pada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui semua itu, bagaimana menderitanya Dia. Dia bukan sekedar mati, tetapi mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan, bagi fisik maupun jiwaNya. Dan peristiwa terakhir yang merupakan mujizat dalam pembuatan film itu adalah saat saya ada diatas kayu salib. Saat itu tempat syuting mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung diatas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya terjadi seperti yang diceritakan. Saya ketakutan tergantung diatas kayu salib itu, disamping kami ada dibukit yang tinggi, saya adalah objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang (setan tidak senang dengan adanya pembuatan film seperti ini). Dan sayapun tidak sadarkan diri. Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil meneriakkan nama saya, saat saya membuka mata semua kru telah berkumpul disekeliling saya, sambil berteriak-teriak “dia sadar! dia sadar!” (dalam kondisi seperti ini mustahil bagi manusia untuk bisa selamat dari hamtaman petir yang berkekuatan berjuta-juta volt kekuatan listrik, tapi perlindungan Tuhan terjadi disini).

“Apa yang telah terjadi?” Tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah halilintar telah menghantam saya diatas salib itu, sehingga mereka segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus, dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh sebuah mujizat kalau saya selamat dari peristiwa itu. Melihat dan merenungkan semua itu seringkali saya bertanya, “Tuhan, apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan ini terjadi, apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan”? Namun saya terus berjalan, kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat padaNya, supaya iman kita tetap kuat dalam ujian.

Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat ditempat syuting itu memerankan Yesus. Oh… itu sangat luar biasa… mengagumkan… tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada sebuah hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada disitu, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diriNya sendiri. Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya, tidak ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang mencambuki saya itu adalah seorang muslim, setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang. Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakan. Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi. Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan film ini.

Saya harap mereka yang menonton The Passion Of Jesus Christ, tidak melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion dan menjadi kecewa.

Tetap pandang hanya pada Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Sejak banyak bergumul berdoa dalam film itu, berdoa menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Film itu telah menyentuh dan mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada hidup anda. Amin.

Sunday, January 26, 2014

Malaysian goverment forbiden Christian using the word "Allah"

KUALA LUMPUR, Jan 26, 2014 (AFP)
Malaysian churches defiantly continued to use the word "Allah" to refer to the Christian God in Sunday services despite the Muslim-majority country's leader saying they must obey rules against it. Malay-speaking Christians prayed and sang hymns using the Arabic word, a practice they have observed for hundreds of years but now the focus of an increasingly tense religious row in the Southeast Asian nation.

"They all contain the word 'Allah'," a pastor at a church near the capital Kuala Lumpur said of the songs sung by his congregation.

"(The Malay-language Bible) contains the word 'Allah'. When we preach we have to read the text. It's a really difficult situation," he added, speaking on condition of anonymity due to the passions surrounding the issue.

Under pressure from Muslim conservatives, Prime Minister Najib Razak said on Friday that Malaysian Christians must heed rules forbidding them from using the word. Islamist leaders in the country say "Allah" -- which also is used by Malay Muslims to refer to their creator -- is exclusive to their religion and must not be used by

non-Muslims. Muslim ethnic Malays make up more than 60 percent of the diverse country's 28 million people. Malaysia has sizeable ethnic Chinese, Indian and other communities. About 2.6 million people are Christians. Church leaders have vowed not to back down.

"Christians in Malaysia have no choice but to use the Malay-language Bibles. To say they cannot use these bibles, it means saying 'you are not allowed to worship in the language that you want'," Rev. Hermen Shastri, general secretary of the Council of Churches of Malaysia, told AFP.

The government in 2007 ordered a Malaysian Catholic weekly newspaper to cease use of the word, arguing it could entice Muslims to convert, which is illegal for adherents of Islam in Malaysia.

The newspaper has launched a long-running court challenge, angering Muslim conservatives, who have demanded Christians use alternative Malay words.

"Why insist? They have an option. They don't really have to use 'Allah' to worship," said Yusri Mohamad, chairman of Muslim rights group Pembela. "This is unnecessary provocation... This is not healthy for Malaysia."

Muslim conservatives have suggested Christians use other Malay words, such as "Tuhan", to refer to God.

Malaysia has avoided overt religious conflict for decades and is generally seen as a moderate Muslim country.

But non-Muslims allege growing intolerance by influential Islamic conservatives. "We feel angry. It's unfair," a Christian church-goer said after Sunday's service. "It's no longer peaceful between Christians and Muslims now."

The Malaysian Catholic church argues "Allah" has been used by Christians in the country for hundreds of years and that the word predates Islam's founding. Tensions sparked by the issue triggered a spate of attacks in 2010 on places of worship, mostly churches.

Najib's Muslim-dominated government responded in 2011 with a compromise allowing Christians limited use of the word.

But he backed away from that Friday, saying the compromise was subservient to state laws and royal decrees forbidding non-Muslim use of "Allah".

Those rules have historically been rarely enforced.

But as pressure from Muslim conservatives rose, Islamic authorities cited one such law earlier this month to seize hundreds of Bibles from a Christian group

Friday, October 11, 2013

Dapat Berubah

Jangan pusatkan perhatian Anda pada sesuatu yang dapat Anda lihat dalam pengertian lahiriah dan jasmaniah. Segala sesuatu yang Anda lihat itu hanyalah sementara dan dapat berubah. Jadi, letakkanlah iman Anda dalam alam yang kekal dan tak terlihat. Hal-hal yang kekal itu tidak dapat berubah.

Firman Tuhan itu kekal dan mengandung 7000 janji yang meliputi keadaan apa pun yang akan Anda hadapi. Dan apa pun yang terjadi di dunia yang dapat berubah ini, janji-janji itu akan selama-lamanya sama.

Betapa pun buruknya perasaan tubuh Anda, Firman selalu menyatakan, “Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh” (1 Petrus 2:24). Betapa pun buruknya situasi keuangan Anda, Firman akan selalu menyatakan, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:19). Jangan bersedia menerima keadaan berkekurangan yang dikatakan dunia dapat Anda alami. Berpeganglah pada pernyataan Firman yang dapat Anda miliki. Pusatkan perhatian Anda pada kebenaran-kebenaran kekal dari Tuhan dan jangan memandang pada hal-hal yang kelihatan. Bagaimanapun , hal-hal itu dapat berubah.

Thursday, June 6, 2013

Apa kata Isaac Newton tentang kiamat?

Pria kelahiran 1643 bernama Sir Isaac Newton pernah meramalkan kiamat akan terjadi pada tahun 2060. Pria dengan predikat fisikawan, matematikawan, ahli astronomi, filsuf alam, alkimiawan, dan juga seorang teolog itu mendapati hari kiamat tersebut setelah melakukan praktik supernatural. Dia menerapkan pendekatan ilmiah dengan mempelajari kitab suci dan mistisme Yahudi untuk itu, menurut lansiran Real Clear Science (5/6). Dari dokumen yang bertuliskan tangannya itu, Newton bercerita tentang pencarian pola dan kode tersembunyi dari Alkitab dan kitab-kitab suci lainnya untuk menghitung kapan berakhirnya bumi. Namun Newton tidak menjelaskan secara detail dan harfiah dari kata "akhir" pada tahun 2060. Di tahun itu, dia hanya memperkirakan bahwa Kristus akan kembali dan membangun kerajaan perdamaian. Itulah prediksi yang dikemukakan Newton. Apakah kiamat akan benar terjadi? Tidak seorang pun yang tahu. Hanya Tuhan yang tahu kapan kiamat akan terjadi. Namun sebelumnya semua itu terjadi, marilah kita giat di dalam Tuhan dan berguna bagi sesama. Sebarkan kasih Tuhan dan hidup dalam kasih Tuhan.aa

Monday, June 3, 2013

BAHAYA : DUNIA MALAM DAN POLIGAMI

Saya kenal dunia malam itu sejak saya SMP. Bapak saya seorang pengusaha kaya jadi bebaslah saya menggunakan uang, menghambur-hamburkannya. Dari situlah saya mengenal seks bebas. Bagi saya saat itu, dosa gampanglah. Saya nikmati dulu hidup saya, enjoy dululah.

Saat ayah saya meninggal dunia, saya tidak merasakan kehilangan sekali. "Ya, papa saya meninggal ya, ya udah…" begitu tanggapan saya waktu itu. Saya dari masa kecil itu tidak merasakan ada perhatian, hanya dimanjakan dengan materi aja. Tapi kalau ada kekurangan sedikit, kesalahan sedikit dari anak-anaknya, terutama saya sebagai anak laki-laki pasti dipukul.

Biasakan sering dulu suka bolos sekolah, main sama temen-temen. Itu dia mau pukul, dia mau jedukin kepala saya di tembok, untung ibu saya langsung tahan. Jadi ya ada akar kepahitan juga pada ayah saya.

Setelah ayah saya meninggal, akhirnya saya kembali asyik dengan kegiatan saya. Suatu hari, kekasih saya datang ke tempat diskotik dan minta menikah dengan saya. Dia bilang mau digugurin tapi ternyata enggak. Wah, saya semakin panik itu. Kok jadi begini? Atas dasar itu, ibu saya menganjurkan untuk menikahinya.

Setelah menikah, saya masih terus keluar malam. Suatu malam, saya bertemu dengan seorang perempuan lagi, saya berkenalan di sebuah klub, saya ngeliat pertama kali kayak pandangan pertama itu di hati langsung klik gitu. Diapun nekat melamar wanita itu tanpa menceritakan statusnya.

Setelah menikah, kebohongan itupun terbongkar. "Pada saat aku baru hamil, itu aku baru tahu," ujar Yosephine, istri keduanya. "Temen saya buka jasa transportasi, rental gitu. Tiba-tiba dia nelpon saat aku masih di salon." tambahnya.

"Aku nemuin kartu keluarga suami kamu, tapi nama istrinya bukan kamu." ujar temen istriku. Tadinya saya masih mengelak, tak mengakui. Karena kebencian, istriku setiap hari pergi sama temen-temen, nongkrong, ketemu laki-laki. "Saya mau buktikan, kalau kamu bisa, saya juga bisa." ujar Yosephine lagi.

Belum selesai masalah keluarga, bisnis pun digoncang masalah. Saat masalah keluarga mengguncang, kami mulai mengandalkan Tuhan. Suatu hari, saat mengadakan kerjasama, orang ini juga bicara tentang Tuhan. Saya main percaya aja, saya tanda tangan surat kontrak perjanjian.

Suatu ketika, ada pegawai menginformasikan. "Uang yang masuk disetorkan ke dalam rekening ini ini ini atas nama si om yang tadi (yang mengadakan kontrak kerjasama), yang mengaku kawan lama." ujar si pegawai itu. Saya kaget, lho kok begitu? Dan lebih parahnya lagi, orang ini yang menjebak saya dan akhirnya berdampak ke masalah hukum. Saya datang ke kantor polisi, langsung 1x24 jam saya langsung masuk ke dalam sel. Kehidupan yang belum pernah saya alami, saya jalani saat itu. Makan ala kadarnya, apa yang dulu bisa saya dapatkan sekarang ga punya, saya putus asa sehingga saya ada keinginan untuk bunuh diri. Waktu itu saya coba minum obat nyamuk. Tiba-tiba saya pingsan, teman-teman bawa saya ke tempat perawatan, tapi saya ga mati juga. Sampai suatu ketika, ada om yang di dalam penjara itu mendatangi saya. "Di dalam ada kebaktian tuh, kita datang yuk," ujar om itu. Oh ya udah, boleh deh, tutur saya. Ketika saya mendapatkan arahan dari pendeta yang saya temui di penjara, saya sungguh-sungguh minta ampun sama Tuhan. "Tuhan, ampuni saya, atas segala dosa-dosa saya." ujar saya ketika itu. Saya menangis, menyesali perbuatan saya. Saat itu saya tertekan sekali gitu. Saya jadinya jijik kalau ingat perbuatan saya yang dulu.

Sewaktu di penjara itu, saya mendengar kabar dari istri pertama kalau dia ingin meninggalkan saya. Singkat kata, ini sudah keputusannya, ini pilihan dia. Apa yang dulu kayak benang kusut, apa yang akan menjadi pemecahan persoalan saya ini, yang dalam pikiran manusia ga ada.

Di lain sisi, istri saya pun ditelepon oleh teman lamanya yang sudah jarang berhubungan dan mengajaknya ke sebuah kebaktian. "Sebenarnya saya lagi suntuk, niat saya sih cuma nganterin. Aku masuk ke dalam, tiba-tiba khotbahnya itu pas banget, pas banget dengan apa yang aku hadapi…" ujar Yosephine.

"Di situ dibilang bahwa apabila kamu tidak memaafkan orang yang berbuat salah kepada kamu, maka kamu juga tidak akan dimaafkan. Saya dulu juga ga baik-baik banget, jadi saya pengen diampuni gitu kan. Nah, kalau saya minta diampuni berarti saya harus mengampuni orang lain. Yang terdekat terlebih dahulu adalah suami saya ya kan? Di situ ada satu komitmen yang saya buat adalah "Tuhan saya mau coba ngampuni dia"" ujar Yosephine lagi. Yosephine pun datang ke penjara. "Jadi udah deh, yang lalu biarlah yang lalu," ujar Yosephine pada saya. Dia juga mengatakan bahwa dia mengampuni saya.

Ketika saya dibukakan pikiran. ini istri saya yang kedua ini luar biasa sekali. Dia tetap ngunjungi saya, yang sebetulnya dia bisa saja ninggalin saya karena saya udah ga punya apa-apa.

Setelah satu tahun tiga bulan menjalani masa hukuman, saya dibebaskan. "Saya heran ya, ada ternyata orang yang brengsek seperti dia bisa berubah. Dari waktu ke waktu, dia menunjukkan perubahan, bagaimana dia merespon anak-anak saya, itu beda banget" ujar Yosephine.

Tuhan memulihkan kehidupan saya, itu dari hubungan saya secara pribadi, untuk masalah ekonomi juga Tuhan pulihkan.

"Tuhan itu luar biasa sekali. Kita itu belum melakukan 0.sekian persen untuk Dia, Dia sudah melakukan untuk kita. Dia tuh baik banget, benar-benar baik sama kita." ujar Yosephine. Saya yang sudah hina, yang banyak berdosa, tapi Tuhan angkat saya. Tuhan Yesus benar-benar baik buat saya…

Sumber Kesaksian : Yohanes Abrani

Wednesday, November 21, 2012

Kontroversi hari kelahiran Yesus

Kalender masehi yang didasarkan kelahiran Yesus ternyata didasarkan pada penghitungan yang salah. Paus Benediktus XVI mengklaim bahwa Yesus sebenarnya lahir lebih awal beberapa tahun dari yang selama ini diyakini.

Salah penghitungan tersebut dilakukan oleh seorang biarawan bernama Dionysius Exiguus dari abad ke-6, yang menciptakan kalender masehi tersebut. Demikian klaim Paus yang berusia 85 tahun ini dalam buku barunya yang berjudul 'Jesus of Nazareth: The Infancy Narratives', yang dirilis pada Rabu (21/11) kemarin.

"Penghitungan awal kalender kita -- didasarkan pada kelahiran Yesus -- dibuat oleh Dionysius Exiguus, yang ternyata telah membuat kesalahan dalam penghitungannya sekitar beberapa tahun," tulis Paus dalam bukunya, seperti dilansir The Telegraph, Kamis (22/11/2012).

"Tanggal kelahiran Yesus yang sebenarnya lebih cepat beberapa tahun," imbuhnya.

Dionysius Exiguus yang juga dijuluki 'Dennis the Small' selama ini diberi gelar sebagai 'penemu' kalender modern dan penemu konsep era Anno Domini atau yang dikenal sebagai AD. Dia menciptakan sistem baru untuk membagi jarak pada kalender saat itu, yang masih didasarkan pada tahun saat dimulainya pendudukan kekaisaran Roma, Diocletian.

Kekaisaran itulah yang menganiaya penganut Kristen, sehingga sistem penghitungannya diganti dengan sistem yang baru dengan didasarkan pada kelahiran Yesus. Kalender yang diciptakan Dionysius ini kemudian diberlakukan secara luas di wilayah Eropa setelah diadopsi oleh seorang biarawan sejarah bernama Venerable Bede.

Kendati demikian, bagaimana cara Dionysius menghitung kelahiran Yesus juga tidak jelas. Selain itu, isu soal salah penghitungan ini juga bukan hal baru, terutama di kalangan akademisi dunia. Banyak sejarawan yang menyakini bahwa Yesus sebenarnya lahir antara 7BC hingga 2BC atau antara 6BC hingga 4BC (BC=Before Christ-red). Apa yang dilakukan Paus melalui bukunya, hanya mengangkat kembali permasalahan tersebut.

Diketahui bahwa Kitab Injil sendiri tidak menyebutkan secara mendetail tanggal kelahiran Yesus. Diperkirakan, Dionysius mendasarkan penghitungannya pada referensi usia Yesus memulai pelayanan dan fakta ketika Yesus dibaptis saat masa kekaisaran Tiberius.

"Tidak ada referensi tentang kapan Yesus lahir di dalam Alkitab -- kita semua tahu dia lahir saat masa kepemimpinan Herodes, yang meninggal sebelum 1AD. Telah disimpulkan sejak lama bahwa Yesus lahir sebelum 1AD -- tapi tidak ada yang tahu pasti," jelas Profesor Penafsiran Kitab Suci pada Oriel College, Oxford University, kepada The Daily Telegraph.

Sedangkan gagasan perayaan kelahiran Yesus pada setiap 25 Desember sebenarnya tidak didasarkan pada fakta sejarah. "Kita bahkan tidak tahu saat musim apa Yesus lahir. Seluruh gagasan untuk merayakan kelahirannya di saat masa-masa terkelam dalam setahun mungkin dipicu oleh tradisi yang kuat dan tradisi musim dingin," tandasnya.

Dalam bukunya ini, Paus juga mengangkat soal kontroversi lainnya, seperti soal lokasi kelahiran Yesus yang selama ini diyakini di sebuah kandang ternak tradisional.

Wednesday, November 23, 2011

NERAKA ATAU SURGA: Pilihan Hidup

Apakah neraka dan surga itu ada? pernahkah Anda takut mati? pernahkan Anda merasa terus bersalah setelah melakukan dosa atau pelanggaran?
Surga dan neraka bukan hanya sebuah tempat setelah mati, karena saat di dunia ini saja kita dapat merasakan keadaan neraka dan surga. Keadaan jiwa yang sedih, takut, marah, kecewa, sakit, tersendiri, dan bersalah adalah bentuk atau wujud dari adanya Neraka yang tak terlihat.
Sedangkan surga sebaliknya, keadaan yang senang, gembira, percaya, berharap, sayang, cinta, peduli, benar dan baik, dapat dialami sekarang saat kita tinggal dunia ini. Maka tanpa harus menunggu mati, Neraka dan Surga adalah pilihan hidup sekarang.

Awalnyan manusia disiapkan untuk tinggal di surga atau tempat yang indah dan damai, makanya tidak heran bila semua manusia berusaha mencari kedamaian dan kesenangan dengan cara liburan, pesta, dan bersemedi. Sayangnhya semua kegiatan itu dapat dialami bila seseorang memiliki uang. Kemudian orang mulai berlomba-lomba bekerja dan mencari uang, namun ketika uang di dapat, pesta dan liburan tidak dapat memberikan kesenangan dan kegembiraan yang tetap. Sebab bila pesta dan liburan itu selesai, maka perasaan senang dan gembirapun hilang.

Lalu bagaimana memperolah kesenangan dan kegembiraan yang tetap? Perlu juga diketahui mendapatkan Neraka tidak perlu dicari, karena lebih mudah melakukan dosa daripada melakukan yang benar. Memperoleh Surga memerlukan upaya, tapi sayangnya kekuatan kita ada batasnya. Maka kita butuh pertolongan untuk dapat mengalami surga di dunia ini. Surga dan Neraka adalah pilihan Anda. Pemilik surga pernah datang ke dunia, Dialah pencipta manusia, Dialah yang tahu untuk apa kita hidup, Dialah yang menyediakan surga, kesenangan dan dan kegembiraan yang tetap. Dia bernama Yesus, Yeshua(Ibr), Jesus (Ingg), Isa (Arb). Terimalah pribadi-Nya dalam hidupmu, dan rasakan surga sekarang juga, karena Dia siap menerima Anda apapun keadaan Anda sekarang. Dosa-dosa Anda akan diampuni, sakit Anda akan disembuhkan, kesedihan Anda akan dihiburkan, kesuraman menjadi kegembiraan. Cobalah dan pasti Anda tidak menyesal.